NASIB GURU SEKOLAH MARJINAL


DIRJEN Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mengalokasikan Rp4,6 miliar untuk guru terpencil di Riau. Total anggaran yang disiapkan adalah Rp486 miliar untuk 30 ribu guru seluruh Indonesia. Tunjangan spesial ini diberikan pada guru yang bertugas di daerah khusus. Yakni mereka yang mengajar di daerah terpencil, perbatasan maupun daerah yang terkena bencana.

Sayangnya, tunjangan jenis ini biasanya hanya kerap diterima oleh cikgu yang telah berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Sementara, di lain sisi, ada guru non PNS yang berstatus sebagai guru marjinal. Soal nasib, mereka sebenarnya tak jauh beda dengan guru terpencil. Para cikgu ini banyak mengajar di daerah pelosok. Beberapa di antaranya bahkan mengajar anak-anak komunitas adat terpencil atau suku terasing. Di Riau, orang Sakai adalah salah satu suku terasing yang bias mengenyam pendidikan di sekolah Marjinal.

Sesuai data hingga awal 2008, ada total 80 kelompok belajar (pokjar) se-Riau dengan jumlah murid 1.500 orang dan 196 orang guru. Masih untuk tahun 2008, telah dianggarkan dana sebesar Rp2,5 miliar dari APBD Riau untuk program ini. Di dalamnya sudah termasuk biaya operasional, biaya pengelola, biaya monitoring dan gaji guru. Semua anak di sekolah marjinal gratis uang sekolah, baju dan alat tulis.

Hingga saat ini, gaji guru sekolah marjinal masih dibawah rata-rata upah minimum regional (UMR) kabupaten/kota se-Riau. Per bulan, para cikgu di sekolah marjinal hanya menerima gaji sebesar Rp800 ribu. Itu pun tidak diterima tiap bulan. Rata-rata dirapel hingga tiga bulan sekali. Jika dibandingkan dengan dedikasi yang telah mereka berikan, gaji sebesar itu sungguh bukan pelipur lara. Selain lokasi sekolah yang cukup jauh dengan medan perjalanan yang tak bersahabat. Sementara biaya hidup makin tinggi. Di sekolah marjinal, bukan anak yang aktif mendaftar, tapi justru guru yang harus aktif mencari anak yang belum atau putus sekolah.

Setakat ini, hanya segelintir kabupaten/kota yang punya perhatian pada guru sekolah marjinal. Umumnya mereka memberikan tambahan berupa tunjangan transportasi yang jumlahnya berbeda-beda. Program Pendidikan Anak Marjinal di Riau sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2004. Ketika itu, sekolah marjinal baru ada di empat kabupaten yakni Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Pelalawan. Sejak tahun 2005, barulah sekolah marjinal ini ada di semua kabupaten/kota di Riau.

Syarat bisa belajar di sekolah marjinal ada tiga. Pertama, anak sudah usia masuk sekolah. Yakni 7-13 tahun untuk SD dan 15-17 tahun untuk SMP. Kedua, berasal dari keluarga marjinal. Yakni dengan indikator penghasilan orangtua dibawah upah minimum provinsi atau kabupaten/kota, memang tak pernah sekolah sama sekali atau putus sekolah. Atau kendala faktor geografis seperti tak ada atau jauh dari fasilitas sekolah. Ketiga, faktor sosial. Yakni anak dari keluarga broken home (ayah dan ibu berpisah), pandangan orangtua bahwa anak tak perlu sekolah, anak dari komunitas adat terpencil (suku terasing) dan lain sebagainya.

Bangunan sekolah marjinal masih menumpang di rumah-rumah penduduk, Posyandu, rumah kepala desa atau tempat lain yang bisa. Salah satu kendala di sekolah marjinal adalah jam belajar yang disesuaikan dengan kondisi anak. Akibatnya, mau tak mau, guru pun jadi tambah repot. Kalau di kota, kendala utama adalah anak yang dijadikan pekerja. Di desa, anak juga dituntut membantu orangtua meningkatkan perekonomian keluarga. Belum lagi adanya anggapan orangtua, anak tak perlu sekolah.

Secara sistem, sekolah marjinal tetap terdaftar di sekolah induk (sekolah negeri yang terdekat) tapi dalam bentuk kelas jauh yang bisa mengadakan ujian mandiri. Targetnya, minimal anak bisa tamat pendidikan dasar setingkat SMP. Karena itu, perhatian terhadap para cikgu sebaiknya diberikan sesuai proporsinya. Selain guru marjinal, perbedaan antara guru di bawah naungan Diknas dan guru yang dibawah naungan Departemen Agama juga masih timpang. Akibatnya, kecemburuan sosial pun susah dienyahkan. Dikutip dari Riau Pos Selasa, 03 Maret 2009.

About these ads

11 Tanggapan

  1. Saya salah seorang guru SMP Marginal di kota Pekanbaru tepatnya di kelurahan Limbungan kecamatan Rumbai Pesisir. Suatu daerah di pinggiran kota Pekanbaru yang mata pencaharian penduduknya adalah nelayan tradisional. Masih banyak anak usia sekolah yang terlantar akibat ekonomi orang tua. SMP terdekat dari daerah ini berjarak 5 km. Sarana transportasi hanya berupa ojek yang biayanya tidak terjangkau, belum lagi biaya sekolah yang lainnya. Banyak orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya. Hal ini mendorong saya dan teman-teman untuk berusaha agar anak-anak tersebut tetap mendapat pendidikan yang layak meskipun dengan kondisi apa adanya. Hal ini sudah berlangsung selama 3 tahun dan Insya Allah tahun ini mereka akan mengikuti UASBN di sekolah induk. Suka duka selama mengajar sangat banyak kami rasakan. Selama 3 tahun kami sudah menerima bantuan baju seragam serta alat tulis sebanyak 2 kali. Selain itu kunjungan dari pihak yang berkompeten seharusnya lebih ditingkatkan lagi. Mengenai kesejahteraan guru kami berharap agar lebih diperhatikan lagi. Status guru marginal bagi kami masih membingungkan, apakah sebagai guru bantu daerah atau honor lepas daerah. Kami sangat berharap kami bisa diangkat menjadi CPNS. Saat ini saya sedang mengambil program Magister Pendidikan dan mengalami kendala dalam pembiayaan. Sementara biaya perkuliahan yang saya jalani sebesar Rp. 6.000.000,- per semester. Untuk membayar SPP tersebut gaji sebesar Rp.800.000 saya tabung selama 6 bulan dan sisanya dibantu oleh rekan-rekan yang prihatin. Sekolah marginal boleh saja minim dalam hal ekonomi dan fasilitas tapi saya ingin menuNjukkan bahwa kualitas guru tidak kalah dengan sekolah negeri lainnya.Perhatian pihak terkait sangat saya harapkan agar tujuan sekolah marginal ini benar-benar tercapai.
    KALAU ADO KATO-KATO YANG BABELOK-BELOK LUIN JO LA MUO….
    CONDO ITU TIO NYE…

    • saya reporter tv nasional, ingin mengetahui profil desvita, dan membuat liputan tentang guru didaerah terpencil. mohon info sms atau telepon 085880320873

  2. Terima kasih atas komentar, masukan serta hinbauanya. muda-mudahan Bapak-bapak pemimpin negeri ini lebih bijak lagi dan cepat tanggap dalam meresponsetiap masalah di bawah. mudah-mudahan wadah ini dibaca oleh masyarakat. mohon dibantu mensosialisasikan media ini di tengah masyarakat didik di Kota Pekanbaru

  3. senang ada caleg yang blogger…
    semoga berhasil meraih suara di pemilu nanti ya pak!

  4. Diperlukan Kebesaran Hati, Kesabaran dan Mentalitas Baja agar bisa senantiasa Istiqomah sebagai Guru Sekolah Marjinal, Mereka inilah potret pendidik sejati yang harusnya diapresiasi penuh oleh pemangku kebijakan utamanya di bidang pendidikan. Mereka para guru di sekolah marginal menjadi sumber inspirasi betapa pendidikan bagi anak bangsa adalah modal yang teramat berharga, Karena Pendidikan dalam KONDISI APAPUN harus TERBANGUN demi cita-cita mulia MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA

    Wah Tulisan Pak Syaiful Begitu Aktual dan Menyentuh..Terimakasih dapat Informasi yang sangat berharga

  5. Semoga dapat diperjuangkan ya Pak. Niat baik tentu harus kita dukung dengan kerja keras dan berbagai dukungan.

  6. terseok-seok bukan hanya milim dunia pendidikkan di negeri kita pak, hampir semua bidang mengalami hal serupa, semua terpicu dari sebuah momok yang belum bisa kita atasi sampai sekarang, EKONOMI. Semua keterbatasan, kegagalan, dan kekecewaan sebuah aktivitas, bermuara pada masalah ekonomi. Padahal, angka2 yang terekspos untuk itu terbilang cukup besar di mata kita. Jadi sebenarnya bidang ekonomi yang mana, menjadi penyebab itu semua???? Maaf pak saya tidak bisa ngomong terus terang, ada yang lebih berwenang . hehehehe…
    makasih kunjungannya pak… semoga sukses..

  7. pasca keluarnya pp 48 nampaknya tak hanya guru di sekolah marjinal, di sekolah penyangga ibu kota pun saat ini sama. terlebih bagi guru honer pendapatannya disesuaikan dengan ketentuan bos, guru pns bisa lebih kalo dia dah ikut sertifikasi itupun diterima tidak setiap bulan. Jika di pekanbaru sana dpat gaji sampe 800rb, di bogor sini bahkan kurang dari itu.
    semoga aja kita bisa menjadi lebih ikhlash

  8. jadi ga yah masuk IKIP??

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: