PENTINGNYA UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN GURU


Oleh : Samsul Nizar

PENDIDIKAN bagi suatu masyarakat berfungsi sebagai social machine yang bertanggungjawab untuk merekayasa masa depannya. Seorang pendidik bertugas membantu mempersiapkan para peserta didik untuk memiliki ilmu pengetahuan yang luas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat secara luas. Namun belakangan ini, eksistensi pendidik seringkali dihadapkan dengan realitas yang tidak mendukung pelaksanaan tugas profesinya, seperti adanya pengaduan orang tua dan masyarakat terhadap kekerasan yang dilakukan pendidik tatkala melaksanakan tugasnya di sekolah.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan UU Perlindungan Anak sesungguhnya merupakan upaya melindungi anak Indonesia dari perlakuan yang sewenang-wenang. Namun, eksistensinya seringkali dijadikan “alat” untuk menjustifikasi kesalahan anak. Kondisi ini berdampak semakin sulitnya guru melaksanakan tugas kependidikan untuk menegakkan kedisiplinan, terutama membina kepribadian anak dengan akhlak yang terpuji.

Bila dalam pendidikan dikenal pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (funishment), sebagai salah satu alat pendidikan, maka dengan adanya UU Perlindungan Anak dan KPAI, seakan dunia pendidikan kehilangan salah satu alat dalam melaksanakan proses pendidikan. Padahal, eksistensi reward dan funishment sangat penting dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Adanya KPAI dan UU Perlindungan Anak secara yuridis melarang adanya tindakan kekerasan terhadap peserta didik. Padahal, sebagai seorang pendidik, guru/dosen memiliki otoritas akademik di dalam kelas untuk menegakkan disiplin agar tercapai tujuan pembelajaran yang dilaksanakan. Di sisi lain, seringkali terlupakan adalah alasan hukuman yang dilakukan guru. Untuk itu, perlu dilakukan uji materi (judicial review) terhadap UU Perlindungan Anak, khususnya pasal 80, 81, dan 82. Sebab, belum tentu tindakan guru murni kesalahannya, akan tetapi akibat kesalahan yang dilakukan peserta didiknya.

Perlakuan Terhadap Guru
Sebagai tenaga pendidik, mereka seringkali berada pada posisi yang dilematis, antara tuntutan profesi dan perlakukan masyarakat. Mereka dituntut untuk mampu menghantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Namun tatkala mereka berupaya untuk menegakkan kedisplinan, mereka dihadang oleh UU Perlindungan Anak dan KPAI. Jika mereka gagal menegakkan kedisiplinan peserta didiknya dan gagal menghantarkan peserta didik pada pencapaian tujuan pendidikan, kembali pendidik akan menjadi kambing hitam dan tumbal atas kegagalan tersebut.

Tatkala guru ingin melakukan hukuman terhadap muridnya dalam rangka menegakkan kedisiplinan, maka secara sepontan orang tua dan masyarakat mengkategorikannya sebagai tindakan melanggar HAM dan UU Perlindungan Anak. Mereka kemudian melaporkan tindakan guru tersebut kepada polisi atau kepada KPAID. Dengan kekuatan tersebut, acapkali guru tidak mendapatkan perlindungan terhadap profesinya. Akibat adanya KPAID dan UU Perlindungan Anak, eksistensi guru berada pada posisi sangat pasif dan menjadi sosok yang serba salah.

Urgensi UU Guru dan Dosen
Secara yuridis, UU Perlindungan Guru dan Dosen telah termuat dalam UU No 14/2005. Hal ini terlihat jelas pada Bab VII pasal 39 yang menyebutkan bahwa Pemerintah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.Adapun maksud Perlindungan Profesi yang diamanatkan dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen adalah perlindungan terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugasnya. Sementara perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kesehatan, dan/atau resiko lainnya.

Berangkat dari paparan di atas, terlihat bahwa eksistensi UU No 14/2005 telah memuat perlindungan terhadap guru atas profesinya. Namun, implementasi terhadap UU tersebut masih belum terlaksana. UU tersebut lebih banyak disoroti sebagai kekuatan hukum atas peningkatan kesejahteraan guru/dosen, sementara perlindungan terhadap profesi guru/dosen seringkali lepas dari perhatian.

Jalan Tengah
Kita tidak menutup mata terhadap tindakan oknum guru yang kurang mendidik dengan memberikan hukuman di luar nilai pendidikan. Mereka meletakkan peserta didiknya sebagai penjahat yang harus dihabisi, bukan sosok yang perlu dibimbing dan diperbaiki. Demikian pula sikap orang tua/masyarakat yang mulai mengalami pergeseran dalam memandang profesi guru. Mereka terlalu banyak menuntut guru agar dapat mengahntarkan peserta didik sebagai masyarakat terdidik, namun tidak seiring dengan penghargaan dan perlindungan yang diberikan.

Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan guru dalam menghadapi murid yang bersalah, sebelum mereka menetapkan hukuman, yaitu; Pertama, perlu memberikan laporan kepada orang tua murid perihal prilaku anak mereka dengan cara pemanggilan secara langsung. Tahapan ini dilakukan sebanyak 2 kali dengan ikut melibatkan guru BK. Kedua, bila selama 2 kali pemanggilan tidak menunjukan perubahan dan kerjasama yang baik, seorang guru bisa memberikan hukuman dengan syarat : (1). Hukuman tidak pada tempat yang vital. (2) hukuman dilakukan dalam bentuk yang mendidik. (3) hukuman dilaksanakan secara adil dan ikut mempertimbangkan aspek psikologis peserta didik.

Bila UU No 20/2003 menuntut pencapaian kualitas yang maksimal, menuntut pendidik menjadi profesional, seyogyanya diiringi dengan adanya UU Profesi Pendidik. Meskipun dalam UU No 14/2005 secara tegas telah melindungi profesi guru dan dosen, namun dalam dataran implementasi kekuatan UU tersebut masih tak terlihat berkontribusi terhadap nasib guru/dosen sebagai tenaga pendidik. Untuk itu, sudah pada saat dan tempatnya jika guru/dosen membangun kekuatan solidaritas untuk mendorong pemerintah memperbaiki kondisi kerja guru/dosen dan melindungi profesi mereka dengan kekuatan hukum yang jelas. Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.

Prof Dr H Samsul Nizar MA,
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Pekanbaru.
Dikutip dari Riau Pos

30 Tanggapan

  1. Di Perancis tahun lalu (atau 2 tahun yang lalu ya?), ada guru SMA (atau SMP ya lupa) bunuh diri gara-gara malu dituduh melakukan kekerasan terhadap murid. Tentu saja guru ini diadili dan dihukum karna pengadilan lebih mendengar anak kecil.

    Setelah guru itu meninggal dunia, barulah murid itu mengakui kalo aduannya itu bohong belaka. Dia sakit hati karna dimarahi guru itu (tidak mengerjakan tugasnya) …

    Kesiahan guru yang begini!

  2. Selamat malam Pak Syaifull, dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Anak dan KPAI bukan dunia pendidikan kehilangan salah satu alat dalam melaksanakan proses pendidikan tetapi justru membantu sebagai dasar untuk mendidik anak, Tujuan pemerintah baik bahkan melindungi anak, Pak Syaifull saya sering menjumpai cara Guru mengajar terlalu sadis masa pendidik koq menempeleng atau berkata kasar sedang dirumah saja anak-anak itu disayang dan berkata-kata baik, saya prihatin melihat dunia pendidikan yang seperti itu, ketika diteliti rupanya Guru tersebut sedang tertekan ekonominya, dan pelampiasan pada anak didiknya, Semoga pendidikan yang sekarang semakin proporsional dan profesional. Tulisan yang bagus dan mendidik. Sukses un tuk anda.

    Regards, agnes sekar

  3. Pul kayaknya kita harus lebih kompak lagi pul, kita banyak ke samaan, sama-sama guru, sama-sama ngajar MTS, sama-sama di Pekanbaru, bagaimana kalau kita tukaran link, kayaknya lebih saling menguntunkan kali yaa, saling komentar juga dapat memberikan lebih bayak pengunjung ke blog kita. Bagaiman bisa ndak tukaran link?

  4. Perlu ada kesepahaman bersama dari –khususnya– para pemegang kebijakan, lebih-lebih mereka yang terkait dengan pendidikan; yaitu kesadaran bersama bahwa harus ada keberpihakan kepada masyarakat dalam persoalan regulasi pendidikan maupun di tingkat implementasi.

    Makasih kunjungannya. Kunjungi juga blog personal saya http://abdalmalik.cn

    Sukses untuk pencalonannya.

  5. Perlu juga kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat untuk kehidupan guru. Kalau ada beasiswa untuk murid, mestinya juga ada program yang sama untuk guru-guru yang pada kondisi khusus perlu mendapat perhatian khusus pula.

  6. Selamat sore Pak. Saya bukan orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Tapi saya sangat berharap dunia pendidikan kita akan lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang.
    Sebagai orang tua, hal yang paling saya dambakan saat ini adalah melihat siswa-siswi yang tahu tatakrama. tahu menghormati orang tua, guru atau orang lain.. Jadi saya malah berharap bahwa bobot pelajaran yang ada hubungannya dengan budi pekerti akan lebih banyak lagi.

    Saya suka miris kalo mendengar curhat anak saya yang kebetulan saat ini sudah duduk di bangku SMP. Betapa kadang guru akan kehilangan pamor didepan murid2nya. Sehingga jangankan untuk mengajar dengan baik, untuk dapat berinteraksi dan mendapat respons dari anak didiknya saja susah.
    Guru saat ini memang dituntut lebih piawai dan smart dalam memberikan materi sehingga anak2 menjadi respect sehingga sosok guru yang akan di gugu dan ditiru dapat diwujudkan.
    Semoga Bapak terpilih menjadi salah satu wakil rakyat
    dan dapat membenahi dunia pendidikan di Indonesia.

  7. undang-undang perlindunga guru kurasa perlu,
    tapi peningkatan kualitas guru juga penting ;)

  8. Sudah di Link ful terimakasih atas kesediaanya. Sebenarnya saya mau komentar tentang UU perlindunngan Guru. Ekmal Rushdy mengatakan tidak perlu UU perlindungan guru. Mungkin Syaiful nanti kalau menjadi anggota dewan dapat memperjuangkan UU perlindungan guru ini. Soalnya guru dalam mengajar akan selalu terjebak dengan kekerasan mengingat meningkatnya kelakuan buruk anak akhir-akhir ini. Dengan adanya UU Perlindungan Anak No 23 th 2002, makin mempersulit posisi guru dalam melakasanakan tugasnya. Hal disebabkan antara lain tidak jelasnya batasan kekejaman, dan kekerasan. Ada banyak pasal yang dapat menjadi multi tafsir yang dapat menjerat guru dalam tindakan melanggar hukum. Bisa jadi UU PA 23/2002 tersebut dapat menjadi pasal-pasal karet yang merupakan perangkap bagi guru-guru yang selalu berhubungan dengan anak didik. Kekarasan yang dapat mengganngu mental, bisa jadi membentak anak dapat ditafsirkan tindak kekerasan. Mencubit anak juga dapat mencederai walau sedikit, juga dapat ditafsirkan kekerasan. Menyuruh anak melakukan sesuatu dapat ditafsirkan eksploitasi dan sebagainya-dan sebagainya. Memang sangat urgen kiranya untuk membuat RUU Perlindungan guru, kalau tidak UU PA yang harus segera direvisi, kalau mau pendidikan anak berlangsung terus. Kalau tidak mana ada guru yang tidak terlibat “kekerasan” versi UU PA, dengan melihat meningkatnya kelakuan buruk anak akhir-akhir ini.

  9. Berjuang terus utk Sang pahlawan tanpa tanda jasa, jgn pernah merasa letih.

  10. saya anak seorang guru SD di desa saya.
    memang cukup dilematis menjadi seorang guru.
    dia dituntut untuk mendidik anak didiknya menjadi anak yang pintar, namun di sisi lain dia harus berhadapan dengan kondisi anak yang berbeda-beda, ada yang nakal, penurut, bengal, sulit menangkap pelajaran dan sebagainya.
    apa tindakan yang haru dilakukan seorang guru haruslah sehati-hati mungkin.
    saya melihat dan mendengar sendiri bagaimana ibu saya dengan susah payah mengajari anak didiknya.
    tiap malam beliau harus berkutat dengan RPP yang akan diajarkannya besok, sedangkan anak2 sekolahan di sekitar rumah kami sedang asyik bermain-main.
    grrrrr… geram hati ini!
    viva guru dan pendidik Indonesia.

  11. Tanpa guru … tak tau, apa saya akan mendapatkan profesi saya seperti sekarang?

    SANGAT PENTING SEKALI UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN GURU. Agar pengajar dalam proses pendidikan tdk membuat resah atau takut dalam mendidik. Bukannya kekerasan … tetapi mendidik agar berdisplin dan menghargai aturan.

    Kalau demikian … generasi bangsa kita berjiwa cengeng dong. di sentil sedikit, panggil Pa2 atw Ma2-nya, mungkin juga kakek neneknya dilapori…..
    Mentalnya lemaaaaaaaaaaah ……

    Makasih … dah mampir di Blogku pak

  12. Semoga ajah berimbang antara UU Perlindungan Guru dan UU Perlindungan Anak.
    salam

  13. Memang sudah saatnya kita-kita para guru harus proaktif dengan ketidaksenjangan yang selalu terjadi, saya sangat mendukung penuh segera diberlakukannya UU Perlindungan Guru dan UU Perlindungan Anak, Saya juga berharap tidak ada lagi terjadinya kekerasan dalam sekolah, baik guru menampar murid, ataupun perkelahian antar murid dan antar sekolah, ada yang sering kita lupa yaitu standarisasi tentang atribut dan pakaian murid, kebayakan yang saya lihat sekarang anak-anak murid lebih cendrung mengikuti tred dalam pakaian sekolah. sangat miris kalo kita melewatkan hal yang demikian dalam dunia pendidikan. salam dari saya untuk semua DEWI HASTIN ASIH, S.KOM guru TIK SMK N 2 Lubukbasung.

  14. assalamu’alaikum
    kunjungan balik kang

  15. Maaf baru baca. Jika bisa berkomentar, seorang guru sebenarnya harus tahu bentuk punishment (hukuman) yang sifatnya mendidik, yang bisa diterapkan kepada siswa. Jika Bapak mengatakan dengan UU PA hilangnya salah satu alat mendidik maka itu kurang tepat. Dan satu hal lagi, guru harus mulai membicarakan segala hal yang berkaitan dengan perilaku siswa secara terbuka kepada kepala sekolah dan komite sekolah atau orang tua siswa. Jangan karena guru pemilik “jam pelajaran” maka sekenanya saat itu juga mengambil tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Guru-guru jgn sampai salah kaprah terhadap kehadiran UU PA dan KPAI. Kekerasan memang harus hilang dari sekolah atau dari ruang kelas.

  16. Itulah nasib guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ya. Semoga mendiknas yang baru dapat memberikan angin segar kepada para guru ya :)

  17. Saya sebagai tenaga guru sependapat dengan Bapa, dimana pada masa sekarang ini guru tidak lagi di hormati oleh anak didik, karena anak didik menganggap bahwa guru tidak berhak lagi menghukum mereka dengan kekerasan (mendisiplinkan), perlu di ketahui semua orang tua, jika anak didisiplinkan hanya dengan bentakan (suara keras) mereka tidak akan takut, jika nilau mereka yang di kurangi, sswa mengatakan ; ‘saya bisa menjawab soal xdari guru kok”, jadi saya sebagai guru bingung untuk mendidiplinkan siswa ( menghormati guru), Apalagi pak jika kita mengajar di sekolah swasta yang berkelas tinggi, jangan sempat anaknya di marahin atau di bentak, bisa-bisa kita yang di pecat pihak sekolah, yang paling parahnya lagi jika nilai anak didik rendah kita sebagai guru yang di salahkan orang tua, jadi itulah sedikit gambaran keadaan guru saat ini. Saya setuju UU Perlindungan guru segera disahkan>

  18. saya sangat bingung disini mengapa seperti terjadi peperangan antara UU Perlndungan Guru dan UU Pelindungan Anak, mungkin disini yg tetap perl;u diutamakan adalah UU Perlindungan terhadap anak, sebab akibatnya akan luar biasa di masyarakat bila memang dilegalkannya seorang pendidik melakukan kekerasan thd anak didik dan seolah ortu terkesan tidak boleh iut campur dan terkesan disalahkan bila membela anaknya, ini cukup berbahaya apalgi dengan sikon di masyarakat yg demikian panas ini bukankan PNS non guru juga berhak pula dibuatkan UU perlindungan pns non guru, sadar saja negara ini terdapat banyak klas, terlepas dari masyarakat dan rakyat PNS itu banyak jenisnya tapi mengapa seolah guru harus selalu dilebih2 kan bahkan seolah sebagai kaum tertindas, apa pantas guru sbg kaum tertindas apalagi 3 th terakhir ini…..lantarmengapa skr murid dan ortu juga diserang setelah sebelum nya merasa paling hebat diantara PNS lainnya….

  19. di mata masyarakat korupsi skr sudah merambah dunia pendidikan hal ini bisa dilihat setelah begitu banyaknya dana2 DAK yg langsung turun ke sekolahan2…apakah ini tidka mengganggu kinerja seorang pendidik, tapi semua itu selalu ditutup2pi dengan yg namanya KOMITE…pdhal selama ini sudah buka rahasia lagi jia antara KOMITE dan pihak sekolah sudah terjadi kong kalingkon nah apa tidak sebaiknya seorang pendidik cukup mendidik saja tidak perl ditambahi pikiran soal mengurusi dana2 yg demikian bukankah sekolah cukup menerima matengnya saja dan yg mengolah tetep Institusi yg terkait jadi san pendidikpun tidak terpecah2 pikirannya, kita lihat saja 3 thn trakhir ini ( tdk perlu dijelaskan…) betapa berubahnya gay hidup guru, pdhal kalo kita perhatikan semua PNS itu sama karena digaji sesuai golongan dan masa kerja terlepas dari adanya tunjangan2 profesi, lantas mengap ini dibiarka berlarut-larut……

  20. …guru selalu ja..”menjual” kata “penghargaan” thd profesi kurang… jangan lebay pliisss!!!..anda skrg dah dilebihkan dr pegawai yg laen…, memberi hukuman kpr siswa? boleh2 ja…asalkan dgn cara2 yg mendidik dan santun.. n tidak pake kekerasan fisik… kalo mau pake kekerasn fisik namanya ga mendidik lagi tapi nantang “tawuran” ma ortu murid…

  21. dalam pendidikn yg islami dikenal dengan diujung cabuk ada emas artnya tidak semua kekerasan bisa berakibat fatal pada anak didik…UU PA buatan orang2 liberal, yg akan berdampak buruk pada pendidikan diindonesia…habibi atau siapalah yg sukses diindonesia mereka itu terdidik dari guru yg disiplin dan tidak banci seperti guru sekarang artinya dalam mengambil sebuah keputusan guru harus kontrol dan mempunyai kecerdasan emosional….saya berpendapat sebagai pemerhati pendidikan menganggap UU PAI banci dan bencong…..yg akan menciptakan generasi2 cengeng dan tukang lapor ama mami and papi

    • sangat setuju, hanya saya tidak melihat kenapa PGRI tidak bersuara. pada saat mau pemilu PGRI baru bersuara, artinya selalu menjadi objek bukan menentukan, berarti guru juga belum kompak dan harus banyak belajar politik.

  22. UU Perlindungan Anak, silahkan…tapi UU Perlindungan Guru juga harus ada. Yang saya maksudkan disini adalah perimbangan diantara keduanya;
    Ketika seorang anak didik melanggar aturan, berbuat melangar etika norma ( tindakan ataupun ucapan) apakah tidak diperbolehkan untuk memberikan sanksi.
    Kemudian jika diperbolehkan, sanksi apa ? Ditegur katanya menyakiti hati, masuk kategori bullying, dihukum supaya sekedar berdiri di depan kelas sambil dinasehati, masuk kategori kekerasan, diskors, melanggar hak anak mendapat pendidikan. Mau jadi apa negara ini..
    Guru bertindak dengan kekerasan memang harus tidak boleh, dan sangat dilarang, akan tetapi definisi kekerasan yang mana dulu. Ketika menjewer sedikit, tidak terlalu, sakitnya juga tidak seberapa, seorang guru dapat dilaporkan ke Polisi, kalaupun damai ujung2nya UANG. Dimana hati nurani oknum masyarakat yang semacam itu.
    Saya yakin, di negeri ini sebagian besar Bapak / Ibu Guru masih memiiki hati nurani, tidak akan menerapkan sebuah sanksi dengan dasar emosi belaka, mari kita berpikir realistis, logis dan rasional.
    Jangan sepotong-sepotong atau sepihak saja dalam menyikapi suatu Undang-Undang, jujurlah pada hati kita semua, adakah sesuatu isntitusi apapun, termasuk institusi pendidikan akan maju tanpa adanya penegakan DISIPLIN. Kemudian tidak akan tercipta KEDISIPLINAN tanpa sebuah aturan yang memuat REWARDS n PUNISHMENT.
    UU Perlindungan Anak yang masih bias, harus diluruskan, UU Perlindungan Guru juga harus direalisasikan agar HAK dan KEWAJIBAN guru jelas,sehingga tidak ada lagi anak/siswa yang jadi korban kekerasan Guru, pun tidak ada lagi Guru yang menjadi korban ayat2 dalam UU PA yang dipolitisir oleh oknum masyarakat. Mari berpikir jernih..

  23. pak. jangan sok jago, sekarang siswa sudah kurangajar sudah tidak ada lagi yang mereka takuti

  24. Dgn uu perlindungan anak ini. Guru jadi tak bisa banyak berbuat. N guru jadi tumbal pemerasan. Sekali tampar dikenakan uang damai sebesar. 4 juta. N anak2 semakim tdk beretika, tdk bermoral n berakhlak. Dan org tua murid membenarkn tindakan anaknya. Pendidikan ditanah air akan hancur.

  25. Hal ini biaanya kurang kompaknya antara pimpinan dan bawahan atau bawahan dengan bawahan sehingga ketika bawahan memberikan sanksi kepada siswanya bisa juga pimpinan yang ingin mempermasalahkan atau bawahan yang lain ingin mempermasalahkan jd perluadanya sinergi antara orang tua, dan mereka harus sepakat ketika anak didiknya berbuat salah dan tidak di beri tindakan sehingga sang anak didik semakin menjadi nakal maka orang tua tidak boleh menyalahkan guru karena ketika di proses guru juga terbentur dengan UU Perlindungan Anak, singkat kata kalo orang tua ada yang protes akan perlakuan guru ya orang tuanya saja yang suru ngajar dikelas “gitu saja koq repot”

  26. Semoga nanti ada uu perlindungan profesi guru kalau tidak, Guru akan ϐaπyāk yang mati karena jantungan huahahahahahahahhahahaa
    Nb: kalau. Seandainya αϑα siswa yang melecehkan guru gmana penyelesiannya tuh pak, guru kalau menempeleng masuk bui, tapi kalau anak yang menghina atau melecehkan guru ????????? Agnes. Sekar lucu komennya “guru sadis” hhahahahaha perlu anda ketahui manusia yang dihadapi guru 30-40 dengan karakter yang berbeda2 sedangkan anak ϒɑ̲̮̲̅͡ñG̲̮̲̅͡ anda sayangi palingan 2-5orang kalau ke 40 manusia itu diisayangi trus waktunya habis buat sayang2 aja survey sekolah negeri donk

  27. Kadang wali murid menjadikan guru sebagai objek bonekaan ϒɑ̲̮̲̅͡ñG̲̮̲̅͡ digertak dengan ham,”dasar guru ga bermutu, anarkis, Ϊηϊ lah itulah, padahal memang anak nya yang berskap kayak ……… ga bisa diatur dll,dan wali murid juga harus tau kalau pendidikan dipengaruhi oleh perlakuan dirumah, kebiasaan masyarakat, lingkungan anak di sekolah, belum tentu siswa yang baik2 dirumah bisa jadi disekolah ia akan menjadi liar bahkan…… bersikap seprti ….., dasar wali murid ……saya bilang gini karena udah melakukan survei setiap hari di sekolah sekolah negeri. Hanya 10 persen murid yang M̲̅ªů mendengarkan gurunya. Selebihnya murid harus dgertak diancam baru dia M̲̅ªů mendengarkan gurunya

  28. Nasib jadi guru, ibarat setengah badan dalam penjara, mudah2 an saja dunia pendidikan indonesia lebih baik kedepannya amiiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: