LAGI, MALAYSIA BAKAL KLAIM SISTEM ADAT KERINCI


JAMBI–MICOM: Budayawan Jambi asal Kerinci Nukman SS mengatakan, kebudayaan dan sko (sistem matrilineal dalam upacara adat Kerinci) saat ini ibarat gadis cantik yang tengah diincar oleh asing khususnya oleh pemerintah Diraja Malaysia.

“Saya melihat ada gelagat tidak tulus dari berbagai kepeduliannya terhadap pemeliharaan Kebudayaan Kerinci yang dilakukan pemerintah Diraja Malaysia belakangan ini. Boleh saja kita katakan mereka saat ini tengah mengincar kebudayaan dan sko Kerinci untuk diklaim,” kata budayawan Jambi asal Kerinci Nukman SS, saat dihubungi di Jambi, Minggu (27/3).

Gelagat itu, tambah Nukman, sebenarnya sudah terbaca jauh-jauh hari, ketika semenjak awal 90-an peneliti-peneliti dari Malaysia mulai berdatangan dan didatangkan ke Kerinci membawa misi riset budaya. Hingga saat ini Kerinci masih menjadi objek riset budaya yang dominan oleh para peneliti Negeri Jiran tersebut.

“Di samping itu, perhatian lebih yang diperlihatkan Pemerintah Diraja Malaysia belakangan ini terhadap Kerinci terkesan ada niatan terselubung yang mesti diwaspadai pemkab dan masayrakat Kerinci,” tegas Nukman.

Malaysia, imbuhnya, jelas-jelas sudah terlihat tengah mengincar ‘Sko’ atau produk-produk budaya warisan leluhur masyarakat Kerinci untuk nantinya mereka klaim sebagai budaya negeri mereka, semua perlu waspadai gelagat itu, jangan sampai terlena oleh manuver perhatian berlebihan dan iming-iming pemerintah Malaysia.

Asumsi tersebut, tambahnya, tidak saja dari dugaan semata. Apalagi jika menilik dari berbagai kasus pengklaiman kebudayaan Indonesia oleh Negeri Jiran tersebut sebelum ini. Kesemua klaim yang pernah dilakukannya seperti atas kebudayaan Batik, Reog, Rendang, lagu Rasa Sayange, Lagu Injit-injit Semut, Angklung, dan Tari Pendet.

Semua klaim tersebut nyata-nyata telah memunculkan protes keras dari pemerintah dan masyarakat tanah air, karena semua yang diklaim itu adalah budaya-budaya Indonesia yang populer di mata dunia dan diakui keberadaannya sebagai kebudayaan RI oleh Uesco. Namun sebagai negara serumpun yang memiliki akar kultural yang sama maka Indonesia tetap menjadi incaran mereka dalam membangun identitas kebudayaan negaranya.

Karena itulah, mereka mulai meramu rencana dan strategi baru guna mencari cara yang aman dari protes masyarakat RI dan dunia. Salah satu caranya adalah dengan mencari negeri lain di Indonesia yang tidak terlalu populer keberadaannya, kurang diperhatikan atau dipedulikan pemerintahnya, namun kaya tradisi dan budaya asli.

Dan tentu saja negeri yang dipilih adalah negeri dinilai memiliki kisah kedekatan dengan mereka baik kultural apalagi historisnya. Para peneliti akan didatangkan dan berdatangan ke negeri tersebut dengan dalih melakukan riset. Semua itu adalah cara mereka untuk mengumpulkan atau mendata kekayaan tradisi masyarakat bersangkutan.

Langkah berikutnya mereka akan memulai tahap pendekatan seperti salah satunya memfasilitasi berbagai fasilitas dan keperluan pengembangan kebudayaan masyarakat di negeri tersebut. Contohnya, mereka akan memberikan berbagai macam hadiah dan hibah, mulai dari bantuan bangunan fisik seperti museum, bantuan hibah finansial, pengiriman cenderamata persahabatan ke kepala daerah bersangkutan.

Lalu berikutnya bisa dipastikan mereka akan menyusul dengan pemberian atau penobatan gelar kebangsawanan kepada tokoh di negeri tersebut langsung oleh Raja yang Dipertuan Agung, bisa juga dari raja-raja di negara bagiannya, bahkan dari pemerintahnya.

Setelah itu mereka akan mencoba merancang dan merekayasa rangkaian hubungan silsilah kekerabatan sosial, kultural dan historis dengan negeri tersebut dengan Malaysia berdasarkan berbagai temuan data dan fakta riset yang telah didapatkan para peneliti yang mereka kirim sebelum-sebelumnya.

Selanjutnya mereka akan memulai tahap akhir diawali dengan kampanye tentang rekayasa yang telah mereka susun tersebut kepada publik sehingga asumsi masyarakat bergeser kepada mereka, dan sebagai pemungkasnya akhirnya mereka mengklaim produk budaya negeri bersangkutan yang telah mereka kumpulkan dan diteliti tersebut menjadi hak milik negara mereka.

“Dan Kerinci adalah negeri baru yang mereka incar tersebut. Alasannya Kerinci yang memiliki banyak kebudayaan asli dan masih murni hingga kini tersebut masih terbilang negeri yang masih sangat lugu dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah khususnya pemerintah pusat, dibandingkan dengan daerah-daerah pariwisata lainnya,” beber Nukman.

Terciumnya jejak sejarah kekerabatan masyarakat Kerinci dengan Malaysia yang telah dimulai dengan banyak warga Kerinci yang jadi perantauan di Malaysia, yang sudah berlangsung dari zaman nenek moyang mereka dulu.

“Karena itulah, langkah pendekatan mereka kini sudah lebih meningkat ke tahap lanjutan, yakni dengan memulai menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada Kerinci. Indikasinya adalah hadiah atau hibah bangunan Museum Kebudayaan Kerinci yang di Bangun di Malaka khusus untuk menampung kebudayaan masyarakat Kerinci. Bupati Kerinci telah diundang Diraja Malaysia untuk meresmikan keberadaan museum tersebut pada April mendatang,” ungkap Nukman.

Saat itu juga dipastikan akan mulai dikampanyekan bagaimana hubungan kedekatan dan kekerabatan Malaysia-Kerinci, sehingga pejabat daerah Kerinci jadi merasa sangat tersanjung dan merasa mendapat apresiasi yang selama ini tidak mereka dapatkan dari pemerintah RI.

“Itulah strategi menuju invasi pengklaiman yang akhirnya akan mereka lakukan, gelagat itu sudah jelas terbaca, pasalnya sebelumnya hal serupa juga sudah sering mereka lakukan tehadap daerah-daerah lain sebagai cara awal pra-pengklaiman terjadi, seperti terhadap Pemerintah Sumbar, Aceh, Sumsel, Riau dan terakhir Jambi,” sebut Nukman.

Namun, tegasnya, semasa itu mereka gagal karena kuatnya proteksi kebudayaan oleh sistematika adat daerah bersangkutan sehingga tidak ada celah bagi mereka untuk melakukan klaim. Beberapa memang berhasil mereka klaim seperti motif songket Pucuk Rebung Riau berhasil mereka curi dan terjemahkan dalam bentuk bangunan yakni kubah Menara Kembar tertinggi di dunia yang kini menjadi ikon Malaysia.

“Sedang beberapa bentuk kebudayaan lainnya termasuk Rendang dari padang, gagal mereka Klaim. Khusus untuk invasi tahap kedua yang objeknya adalah Kerinci saat ini sepertinya mereka berpeluang besar untuk berhasil mendapatkan klaim baru terhadap beberapa ‘Sko’ asli masyarakat Kerinci, khususnya terhadap naskah-naskah kuno Kerinci,” kata Nukman.  Karena itulah, tegasnya, Pemkab dan masyarakat Kerinci diingatkannya untuk mewaspadai berbagai iming-iming berbuntut tipu daya yang ditunjukkan Malaysia yang seperti amat peduli terhadap kebudayaan negeri Kerinci tersebut, jangan sampai lengah.

“Jangan sampai nantinya ditemukan ada produk budaya asli masyarakat Kerinci yang berpindah tangan kepada negeri Jiran yang mungkin saja jadi ikon kebudayaan mereka yang baru. Pemerintah pusat melalui Kemenbudpar juga harus turut membantu memantau gelagat tersebut. Bahkan Budpar wajib membantu masyarakat Kerinci melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya, sehingga terproteksi dari klaim negara lain yang mengancam,” tandasnya.(media Indonesia)

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Oh malaysia.. kerjanya suka banget mengklain karya orang.. :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: