Home

Tujuan ditegakkannya al wilayah (pemerintahan) adalah untuk menyejahterakan rakyat.
Dan setiap waliyul amri (pemimpin) bertugas menciptakan kesejahteraan rakyatnya melalui kebijakan yang diambilnya. Rasulullah SAW, bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam yang memerintah manusia adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” ( HR. Bukhari 893 dan Muslim 4828 ).

Sejarah mencatat, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijriah, beliau menetapkan suatu tempat untuk didirikan Masjid (Masjid Nabawi) dan pada hari itu pula ditegakkanlah Shalat Jum’at yang pertama kali. Bersama dengan Abu Bakar RA dan Ali bin Abi Thalib RA, untuk pertama kalinya Rasul SAW mendirikan wilayah di sana, dengan luas wilayah pemerintahan yang kecil ( seluas Rukun Tetangga, dalam konteks kita saat ini).

Kebijakan pertama Rasulullah SAW adalah menegakkan Amal Ta’awun (tolong menolong), yaitu mempersaudarakan kaum muslimin antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Kebijakan kedua Rasulullah SAW adalah mendirikan pasar Baqi al Zubair. Dan kebijakan ketiga Rasulullah SAW adalah menetapkan timbangan dan takaran, serta menetapkan standar Dirham dan Dinar. Ketiga kebijakan ini adalah pondasi utama Rasulullah SAW menegakkan al wilayah, dalam �amal muamalat yang haq. Maka secara otomatis (de facto) Amal Muamalat yang tidak berdiri di atas tiga pondasi ini adalah perbuatan bid’ah dholala (hal baru dan sesat).

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslim untuk bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing, Beliau menyarankan hendaknya tiap-tiap muslim selayaknya dapat memperoleh 1 Dirham dalam sehari. Apabila kurang dari 1 Dirham, maka tidak dapat mencukupi belanja sembako untuk menopang hidup, yang kalau hal ini terjadi secara terus menerus maka ia tergolong kaum dhuafa. Pada masa ini Rasulullah SAW mengembangkan dua sektor usaha untuk mendongkrak perekonomian Madinah, yaitu sektor perdagangan dan sektor pertanian seperti yang digambarkan oleh Abu Hurairah RA: “Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin sibuk mengurusi perdagangan mereka di pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar sibuk mengelola harta mereka, yakni sibuk bercocok tanam” (Dalam riwayat Muslim dan riwayat Ibnu Sa’ad tertera: mereka sibuk mengelola tanah mereka). Sedangkan mata uang yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW pada bulan ke 8 tahun 1 Hijriah, adalah: Dinar cetakan Hiraklius untuk 1 mitsqal Dinar Islam (1 Dinar) dan Dirham Nabawi 14 qirat.

Beliau bersabda, “Timbangan adalah timbangan penduduk Mekkah, dan Takaran adalah takaran penduduk Madinah.” ( HR. Abu Daud 3340, Nasai 2299 ). Al Khattabi berkata: “Penduduk Madinah menggunakan bilangan untuk menghitung Dirham” ( seperti koin token ) ketika Rasulullah SAW tiba di sana. Bukti yang memperkuat pendapat itu pada riwayat Burairah RA dari Aisyah RA, Aisyah RA berkata : ‘Apabila keluargamu ( keluarga Burairah ) ingin aku menghitung ( dirham ) untuk mereka satu hitungan, aku lakukan.’ Maksud Aisyah RA adalah Dirham sebagai harga, lalu Rasulullah SAW memberi petunjuk untuk menggunakan timbangan dan standarnya adalah timbangan penduduk Mekkah”*).

Sebab munculnya perintah itu adalah perbedaan ukuran sejumlah Dirham Persia (Sasanid) yaitu koin 20 qirat, koin 12 qirat dan koin 10 qirat. Lalu Rasulullah SAW menghitung sebagai berikut : 20 + 12 + 10 = 42/3 = 14 qirat, sama dengan 6 daniq. Inilah standar Dirham yang shahih untuk muamalat. Di mana tiap muslim yang mendapat 1 Dirham per hari/kepala, maka ia terbebas dari kemiskinan. Dan bila seorang muslim memiliki harta yang mudah dijual (likuid ) senilai lebih dari 40 Dirham, maka ia tidak layak mendapatkan santunan shadaqoh ( lihat al Muwatta ).

Lalu pada tahun ke 2 Hijriah sesudah perang Badar, Rasulullah SAW menetapkan zakat individu sebesar 1 sha’ makanan untuk tiap muslim, dari bayi hingga tua renta. Kemudian ditetapkan zakat mal untuk tiap-tiap 20 Dinar dan 200 Dirham yang dimiliki dalam satu tahun (haul), dengan zakat sebesar 1/40 atau 2,5 %. Demikian pula zakat ternak serta zakat buah dan biji-bijian kemudian ditetapkan.

Pada tahun ke 4 Hijriah, Rasulullah SAW menegakkan waqaf yaitu amal shadaqoh jariah, yang pahalanya tidak terputus meski si waqif meninggal dunia. Waqaf yang ditegakkan adalah waqaf ekonomi produktif, Beliau mewaqafkan tujuh lahan kebun kurmanya di Madinah untuk dimanfaatkan hasilnya oleh para dhuafa yang mengelola. Sehingga di antara mereka ada yang mampu membayar zakat mal pada tahun 9 Hijriah. Karena tak sepatutnya dhuafa dibiarkan menjadi dhuafa terus tanpa ada muslim yang mau membantu merubah nasib mereka.

KESIMPULAN :
Rasulullah SAW tidak mengajarkan (tidak suka) amal ibadah yang sifatnya seremonial, seperti: membangun masjid-masjid megah sementara dhuafa di sekitarnya dibiarkan merana secara terus menerus menjadi dhuafa dari generasi ke generasi. Untuk anak yatim solusinya adalah dengan mengadopsi mereka bukan membuat panti asuhan.

Muamalat yang haq adalah :
Saling tolong menolong ( ta’awun).
Menegakkan pasar yang syar’i dengan takaran dan timbangan yang jujur (adil).
Mata uang yang halal adalah Dinar takrir 1 mitsqal de facto koin Dinar Hiraklius (dinar 22 karat seberat 4,25 g).
Dirham timbangan Rasulullah SAW seberat 14 qirat perak murni. (Standar Khalifah Umar Ibnu Khattab RA, 20 Hijriah ). Mau tau sumbernya klik disini

Iklan

9 thoughts on “DIRHAM SOLUSI HAPUS KEMISKINAN

  1. ASSALAMU ‘ALAIKU MAS SYAIFUL

    GIMANA KABARNYA NIHH?? UDAH LAMA GA SILATURAHMI LAGI, TERIMA KASIH YA UDAH MAU MAMPIR DI BLOG SAYA, DAN KALO BISA SERING2 MAMPIR MAS.. HEHEHE…. 😀

    SALAM HANGAT,
    DEDHY KASAMUDDIN

  2. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank sukses selalu yaaaak
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  3. mudah mudahan semangat lebaran.. semangat persahabatan dalam CINTA dan KASIH SAYANG terus melekat di hati kita semua.. dan bertumbuh kembang membangun kembali kepribadian bangsa yang ramah dan penuh CINTA
    salam sayang untukmu saudaraku

  4. Bila dilihat secara universal, sistem keuangan finansial tampak semakin mengalami kerapuhan. Korea Utara telah men-sanering dua digit dari mata uangnya dan beberapa versi keluaran tahun tertentu tidak dianggap berlaku, sehingga banyak uang yang dipegang oleh rakyatnya hanya menjadi kertas tidak berharga. Raksasa produsen mobil Jepang, Toyota, memberi peringatan awal bahwa perusahaannya kemungkinan akan mengalami kerugian akibat penguatan Yen terhadap Dollar, yang berkaitan akan turut berjatuhan juga industri otomotif lainnya. Dollar akan segera membanjiri negara-negara berkembang, bila hal ini terjadi, seperti di Indonesia, masyarakat kemungkinan akan lebih memilih Dollar dibanding Rupiah. Sistem finansial perbankan akan mengalami guncangan, termasuk juga perbankan ’syariah’ yang tidak terlepas dari sistem ekonomi riba. Saat kemelut finansial terjadi, semua orang akan terkena imbasnya, termasuk pengguna dinar emas-dirham perak, bagaimanapun yang berpijak pada pondasi yang lebih kokoh akan relatif lebih aman saat terjadi benturan finansial tadi.

    Dinar Emas dan Dirham Perak (ditambah fulus tembaga, yang saat ini belum mulai kita terapkan) tidak bisa berdiri dengan sendirinya, namun yang terjadi saat ini Dinar Dirham cenderung dimiliki sebagai koin investasi dan sekedar alat tabung. Akibatnya pemakainya masih terjebak dalam kerangka pemikiran rate tukar & rate buyback, perbedaan harga antara koin yang didistribusikan oleh provider A B dan C, sekat-sekat distribusi dan kekakuan yang menghambat peredaran Dinar-Dirham untuk beredar secara luas dan luwes. Contoh yang terjadi misalnya, seseorang menukar dinar di provider A kemudian akan dirupiahkan di provider C, maka rate buybacknya yang biasanya 4% untuk dinar menjadi 8, 10 atau 12%. Contoh lain, karena harga emas berfluktuasi tinggi, maka rate buyback yang biasanya sebesar 4% berubah menjadi 5, 6 atau 7%. Kebijakan ini tentunya akan mengendurkan minat masyarakat untuk beralih menggunakan Dinar-Dirham, sudah semestinya kita mempermudah dan bukan mempersulit dan merugikan masyarakat dengan dalih edukasi atau menjaga niat pengguna dari spekulasi. Secara real, untuk berspekulasi dalam dinar-dirham beresiko dan memakan waktu yang terlalu lama.

    Untuk berspekulasi dalam Emas, akan lebih mudah dan menguntungkan bila pembeli Emas membeli Emas batangan pecahan 100 gram keluaran PT Logam Mulia di Toko Mas (syarat: di jakarta dan membeli di toko mas, bukan di counter logam mulia) karena harga belinya yang murah (selisih rp 3000-8000 dari rate logam mulia) dan harga buyback yang tidak terlalu mahal (selisih rp 2000-3000 dari harga jual) jadi untuk menerapkan kebijakan yang memberatkan pengguna Dinar-Dirham sama dengan menghambat laju restorasi muamalah.

    Persoalan tadi terjadi karena belum ada saluran untuk menggunakan koin nuqud (Dinar Emas & Dirham Perak) dalam terapan muamalah real. Maka tahap lanjut setelah pengenalan Dinar-Dirham sebagai media nishab zakat dan solusi untuk meninggalkan riba uang kertas adalah pasar islam terbuka, di mana masyarakat, muslim khususnya, akan dibiasakan untuk menggunakan nuqud sebagai sarana transaksi dalam muamalah real harian. Efek langsungnya adalah, pemilik nuqud tidak lagi melihat berapa rupiah rate koin nuqud saat yang bersangkutan akan membeli atau membayar suatu barang/jasa, melainkan bisa langsung dibayarkan tanpa mediasi uang kertas, maka pemilik koin tidak lagi perlu melihat berapa rupiah rate dinar-dirham saat ini kalau perlu di-kertas-kan. Transaksi komoditas ke komoditas.

    Saat ini, pasar Islam terbuka yang sudah mulai dirintis dan berjalan adalah pasar Islam Jumat-Sabtu di kompleks mesjid Salman ITB Bandung dan akan bertambah juga pasar-pasar Islam lainnya, insyallah, dengan koordinatornya bapak Thorik Gunara beliau juga mendirikan Gilda (guild, paguyuban) pedagang yang menjadi cikal bakal kembalinya kafilah atau karavan dagang, Insya Allah. Anggota yang bergabung dalam Gilda pedagang Salman ini sekitar 70 orang, seluruhnya pedagang aktif dan ‘professional’ dalam artian memang kesehariannya memberi nafkah keluarganya dari berdagang. Seperti sabda Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam, bahwa sembilan dari sepuluh pemasukan Muslimin adalah melalui perdagangan. Para pedagang ini telah memahami bahwa hak-hak para pedaganglah yang telah dirampas saat ini oleh para bankir, karena semestinya pedaganglah yang mendapatkan kedudukan mulia di masyarakat sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi, sallallahu alayhi wa sallam.

    Para pedagang ini telah mulai membandrol harga dagangannya umumnya dalam dirham meskipun penggunaan fulus belum sepenuhnya diminimalisir, berdagang dan bermuamalah dibekali dengan pengajaran fiqh (mengambil fiqh dari madzhab imam Syafi’i) dan kesan yang umumnya dirasakan saat melakukan transaksi adalah berbeda dengan pedagang-pedagang lain, ‘aura’ islamnya lebih melekat. Sekat perbedaan produsen koin mulai dikikis karena semua koin dapat dipergunakan untuk ditransaksikan di dalam pasar.

    Liputan perkembangan dinar-dirham dan pasar islam bisa dilihat di:

    http://www.dinarfirst.com

    http://www.islamhariini.org

    http://www.islamhariini.wordpress.com

    Semoga Allah memberi kemenangan pada hamba-hambanya yang tulus, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s