Home

Kehadiran fulus akan menjawab pertanyaan banyak pihak tentang pembayaran untuk barang-barang yang bernilai kecil, seperti permen, kerupuk, dan sejenisnya
Sesaat sesudah mendengarkan laporan perjalanan muhibah dua utusan khususnya, Tariq Deane dan Ishak Iglesias ke Indonesia sekembali mereka ke Cape Town, Shaykh Dr. Abdalqadir as Sufi (baca: Utusan Shaykh Abdalqadir ke WIN) , menginstruksikan kepada pengurus Wakala Induk Nusantara (WIN) untuk segera menerbitkan fulus. Dalam percakapan langsung via telepon internasional, Rabu, tengah malam Waktu Indonesia Bagian Barat, kepada Abdarrahman Rachadi dari WIN, Shaykh Abdalqdir memberikan izin dan instruksi khusus tersebut.

‘Kehadiran fulus sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang posisi uang kertas pada tempatnya,’ demikian, antara lain, pesan Shakyh Abdalqadir. Dalam sistem riba saat ini posisi uang kertas, yang sesungguhnya tak memiliki nilai, justru dianggap sangat bernilai. Sementara koin-koin logam -yang pada mulanya terbuat dari emas dan perak- kini diposisikan sebagai uang recehan, sesudah terbuat dari aluminium atau tembaga dan nikel.

Sebelumnya kepada Shaykh Abdalqadir, Tariq melaporkan perkembangan kegiatan pengamalan Dinar dan Dirham di Indonesia, melalui Wakala Induk Nusantara (WIN), serta penyelenggaraan pasar-pasar terbuka. Telah dimulanya penarikan zakat mal dengan Dinar dan Dirham juga dilaporkan kepadanya. Atas dasar perkembangan inilah Shaykh Abdalqadir memandang telah tiba saatnya bagi umat Islam Indonesia untuk kembali mengenali fulus, dan perbedaan posisinya dengan nuqud, yaitu Dinar dan Dirham.

Dalam literatur-literatur klasik nuqud (jamak dari kata naqd) digunakan untuk menyebut alat tukar terbuat dari emas (dinar) atau perak (dirham) sedangkan fulus (jamak dari kata fals) digunakan untuk menyebut alat tukar selain terbuat dari emas dan perak seperti tembaga, besi, dan sebagainya. Dalam konteks sekarang fulus akan terbuat dari kertas khusus, sejenis dengan kertas yang dipakai sebagai bahan uang fiat (uang kertas), agar tak mudah sobek dan rusak.

Kehadiran fulus akan menjawab pertanyaan banyak pihak tentang pembayaran untuk barang-barang yang bernilai kecil, seperti permen, kerupuk, dan sejenisnya. Tetapi, yang paling pokok, adalah umat Islam akan kembali memahami adanya dua jenis alat tukar, yakni alat tukar yang valid dalam hukum Islam (yaitu nuqud, Dinar dan Dirham) dan yang tidak valid dalam syariat, yaitu fulus. Syariat Islam mengatur segala sesuatu yang terkait dengan nilai, seperti nisab zakat, denda, hudud, diyat, kontrak-kontrak bisnis seperti qirad dan shirkat, penetapan harga, jual-beli, dan sebagainya, hanayalah dalam nuqud. fulus tidak dapat dipakai untuk segala bentuk transaksi tersebut.

Dalam konteks sekarang kita bisa menyamakan fulus ini dengan istilah kupon penukaran atau voucher, yang bisa digunakan hanya secara terbatas, dengan nilai kecil, berfungsi sebagai alat tukar recehan. Dalam waktu dekat tim WIN akan segera merancang desain kupon penukaran terbatas ini. Sumber : wakalanusantara.com

Iklan

One thought on “SHAYKH ABDALQADIR AS SUFI SEGERA TERBITKAN FULUS

  1. Assalamu’alaikum,

    Menarik sekali Pak tulisannya. Masalah seperti ini sering kurang mendapat perhatian. Pada hal segala bentuk ibadah yang menyangkut uang sebaiknya menggunakan dinar dan dirham. Karena emas dan perak nilainya tetap. Berbeda dengan uang kertas yang nialinya bisa turun. Sebaiknya disosialisasikan bahwa pembayaran zakat sebaiknya dengan dinar atau dirham.

    Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s