Home

Sebuah surat datang dari siswa ke meja Redaksi Majala Dinding di sebuah sekolah, surat itu berisi tentang pertanyaan. Mengapa kita mendengarkan bacaan Al-Qur’an walaupun kita tidak dapat mengingatnya satu pun. Sang pengirim surat bilang, ia sudah pergi ke mesjid selama bertahun tahun. Selama itu ia sudah mendengarkan ayat ayat yang dibacakan ustad. Tapi, selama itu pula ia tidak dapat mengingat satu ayat pun. Jadi siswa itu berpikir hal itu hanya membuagkan waktunya saja.

Dalam waktu beberapa hari saja, surat pembaca itu mendapat beragam tanggapan. Ada yang mendukung, tapi ada pula yang menolak tanggapan tersebut.

Hingga suatu hari datanglah sebuah surat tanggapan dari Guru Agama Pak Guru bercerita kalau ia sudah berkeluarga selama 30 tahun. Selama berkeluarga, istrinya sudah memasak beribu jenis menu makanan untuk dirinya. Selama 30 tahun itu pula, Pak Guru tidak pernah bisa mengingat apa saja menu-menu itu. Tapi, ada satu hal penting yang diingat oleh Pak Guru. “Semua makanan yang disajikan istri saya, semuanya bergizi. Dengan makanan itu, saya punya kekuatan untuk bekerja demi keluarga. Jika istri saya tidak memberi makanan itu, barangkali saya sudah meninggal sekarang ini.

Sama halnya bila saya tidak pergi ke masjid dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an sebagai makanan jiwa sehari-hari. Jiwa saya pasti sudah mati sekarang.” Cerita di atas mengingatkan, tidak hanya tubuh kita yang perlu makanan. Jiwa kita pun perlu diberi “makanan”. Nah, “makanan” untuk jiwa adalah menjalankan ibadah dan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Wassalam

Iklan

One thought on “JIWA PUN PERLU MAKANAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s