Home

“Mereka Menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan”

MAROS – Aliran sesat menyebar di Dusun Laiya, Desa Matajang, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Kabupaten Maros. Aliran sesat di desa tetangga Makassar ini dipimpin Daeng Kulle. Pengikut aliran ini telah berjumlah 50 orang, terdiri dari orang dewasa dan anak -anak.

Aliran ini mempercayai adanya Tuhan di atas Allah SWT, yang bernama Ahad Soth. Mereka menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan di atas Allah SWT. Ajaran ini berdiri baru sekitar tiga bulan.

Bahasa yang digunakan Ahad Soht adalah bahasa Arab bercampur Makassar. Ahad Soth mengaku mendapatkan bahasa itu dari Wali Songo titisan Karaeng Daeng Paturu. Aliran ini mengajarkan dua kali salat bagi tiap-tiap pengikutnya yakni, Salat Lohor Asar. Dalam salatnya mereka hanya diperbolehkan membaca Al Fatiha dan doa yang diberikan khusus oleh Ahad Soth dengan bahasa Makassar. Menurut Soht, cara ini agar terhindar dari bala.

Selain itu para pengikutnya juga diajarkan, beribadah dengan cara bersemedi, bergoyang-goyang, dan meraung-raung seperti binatang pada umumnya. Supaya jazad mereka dapat di masuki malaikat.

Mereka juga menjadikan Al Quran sebagai kitab suci. Hanya saja, pengikut dilarang membaca Al Quran. Hanya pemimpin aliran ini yang bisa. Al Quran dibawa setiap hari Senin, ketika kelompok ini melakukan upacara. Dalam upacara itu, pengikut membawa tongkat dan senjata tajam. Ahad Soht melarang pengikutnya membaca Al Quran, hanya pemimpin yang dapat melakukannya.

Untuk menuju desa Layla, markas aliran sesat ini di Kabupaten Maros, kita harus menggunakan kendaraan dari kota Maros menuju Cenrana,dan diperlukan waktu sekitar dua jam berjalan kaki menyusuri gunung dan bukit yang terjal.

Ketua Majelis Ulama Kabupaten Maros KH Sahabuddin Hamid mengatakan, ajaran Ahad Soth tidak boleh dipercaya. Sebab, tak sesuai dengan Alquran dan Hadis. Ajaran itu juga meresahkan sebagian warga Maros, terutama mereka yang tinggal di Laiya, Desa Matajang, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. (kabarnet.wordpress.com)

Iklan

5 thoughts on “ALIRAN SESAT ‘AHAD SOTH’, SHALAT PAKAI BAHASA MAKASSAR

  1. Para pemimpin aliran sesat itu biasanya mendalami agama tanpa berguru. Ajaran agama yang sampai kepadanya direnungkan dan dipahami sendiri tanpa mau bertanya kepada ahlinya karena ia sudah merasa ahli. Atau bahkan ada yang mendapatkan langsung bisikan-bisikan. Lihat saja, pemimpin aliran sesat itu biasanya juga tidak bergaul dengan kebanyakan ulama lainnya. Jadinya ya begitu deh… sesat dan menyesatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s