Home

Nama Luna Maya semakin populer ketika video porno Ariel-Luna Maya dan Ariel-Cut Tari beredar bebas di internet. Peredaran video ini telah mengemparkan Indonesia.

Bahkan kasus ini sempat mengalihkan perhatian orang Indonesia terhadap kronisnya kasus korupsi dan penyelewengan pajak di Indonesia.

Kasus ini juga menjadi headline di beberapa surat kabar di negeri tetangga. Lebih menariknya, majalah porno kelas dunia pun pernah mengangkat kasus ini sebagai berita seks yang menghebohkan. Kasus ini telah membuat Indonesia lebih dikenal orang luar negeri. Sayangnya, popularitas Indonesia melalui video Ariel-Luna justru bertolak belakang dengan kondisi bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi moralitas dan agama.

Kasus peredaran video porno ini telah menyeret Ariel ke meja hijau. Perkembangan terakhir Ariel telah divonis bersalah dalam kasus yang sangat memalukan ini. Sedangkan Luna Maya dan Cut Tari tampaknya tidak sampai diseret ke meja hijau.

Mereka mungkin dianggap sebagai korban dalam kasus ini meskipun sebenarnya mereka adalah pelaku adegan mesum dalam kasus ini. Anehnya lagi, banyak juga pandangan yang menyatakan bahwa Ariel, Luna Maya dan Cut Tari tidak bersalah. Yang dianggap bersalah adalah penyebar video tersebut sedangkan pelaku adegan mesum dianggap biasa-biasa saja sebab berbuat mesum sudah dianggap biasa.

Ariel memang layak untuk dihukum dengan menggunakan hukum formal yang ada di Indonesia sebab apa yang dilakukannya semakin mendorong rusaknya moral bangsa. Tetapi anehnya Luna Maya tidak mendapat hukum baik secara hukum formal maupun hukum masyarakat.

Sanksi sosial yang diberikan kepada Luna Maya ternyata hanya sesaat. Ini disebabkan kepentingan ekonomi jauh lebih penting dari pada sanksi sosial. Makanya tidak mengherankan Luna Maya sekarang tampil di televisi sebagai bintang sinetron. Mengapa ini bisa terjadi? Tidak adakah sanksi sosial yang diberikan kepada orang yang telah melakukan perzinaan secara terang-terangan seperti itu?

Luna Maya dan Pencitraan Guru

Tampilnya kembali Luna Maya sebagai bintang sinetron di televisi seharusnya mengejutkan kita sebab dia baru saja membuat kesalahan yang sangat berat tetapi televisi sangat berani menampilkannya di hadapan publik. Bahkan dalam sebuah sinetron Luna Maya berperan sebagai sebagai seorang guru SMA.

Ini memang sangat keterlaluan. Meskipun sinetron berada dalam dunia fiksi sedangkan perilaku buruk Luna Maya berada dalam dunia nyata, pena-mpilan Luna Maya sebagai guru memberikan pencitraan yang sangat buruk terhadap guru di Indonesia.

Sosok Luna Maya sangat tidak pantas berperan sebagai guru sebab sosok guru harus ditempatkan sebagai orang yang bisa ditiru dan menghormati nilai-nilai moral. Penampilan Luna Maya sebagai guru berdampak terhadap persepsi orang terhadap guru. Orang semakin tidak menghormati  guru bila berperilaku tidak baik sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang ada dalam ma-syarakat.

Tampilnya Luna Maya sebagai guru dalam sinetron seharusnya tidak terjadi bila pihak televisi mempertimbangkan moralitas. Luna Maya perlu diberikan sanksi sosial dengan cara tidak memberikannya kesempatan untuk tampil sebagai pemain sinetron sebab sebagai publik figur ia telah membuat kesalahan besar.

Bila ia tetap tampil dengan leluasa, maka penampilannya itu dapat dijadikan pembenaran oleh publik terhadap kesalahan yang dilakukannya. Bila ini terjadi maka media semakin mempercepat rusaknya moralitas bangsa di Indonesia.

Perhatikan sosok guru yang dimainkan oleh Luna Maya. Ia berperilaku sangat tidak mendidik. Rok pendek super ketat yang digunakannya sangat tidak sesuai dengan misi moral dalam pendidikan di Indonesia. Bahkan celana dalam siswa dan guru perempuan yang ditampilkan dalam sinetron itu nyaris kelihatan.

Penampilan seperti ini tentu saja tidak sesuai dengan dunia pendidikan. Standar pakaian seperti ini tentu saja tidak memberikan nilai pengajaran bagi publik. Gaya hidup siswa yang bersifat glamor yang ditampilkan juga sangat tidak sesuai dengan dunia pendidikan.

Bagaimana mungkin siswa SMA ditampilkan dengan gaya clubbing dan dekat dengan nuansa diskotik? Meskipun realitas seperti ini ada di perkotaan, pihak media perlu mempertimbangkan ini sebab itu bisa merusak pandangan siswa terhadap kehidupan pelajar.

Segala legal formal memang tidak ada ketentuan yang mengatur orang yang telah merusak moral bangsa tidak boleh tampil di televisi. Tetapi dari sisi sosial dan kepentingan penjagaan moralitas, pihak media perlu mempertimbangkan ini. Kebebasan dalam berkreasi tidak boleh menampilkan sesuatu sebebas-bebasnya.

Moralitas menjadi pertimbangan penting dalam program siaran di televisi. Kepentingan ekonomi memang sangat dominan dalam penampilan Luna Maya dalam sinetron. Teori popularitas menyatakan bahwa semakin banyak masalah atau kasus yang melibatkan seorang artis, maka ia semakin populer.

Jika popularitasnya semakin meningkat, maka daya tariknya bagi publik akan semakin meningkat pula.

Alhasil, nilai jual artis itu akan meningkat. Kesempatan ini biasanya akan dimanfaatkan oleh pihak media atau rumah produksi untuk memberikan peran tertentu kepada artis itu dengan tujuan untuk meningkatkan rating. Selanjutnya, rating tentu saja akan menjadi dasar untuk menentukan harga iklan di televisi.

Semakin tinggi rating, maka semakin banyak untung yang akan diperoleh pihak televisi. Jika seperti ini cara pandang yang terbangun dalam pengelolaan televisi di Indonesia, maka televisi tidak memberikan sumbangan yang positif terhadap perbaikan moral bangsa.

Perbedaan antara baik-buruk, bermoral-tidak bermoral, dan halal-haram semakin kabur. Akibatnya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di tingkat pusat maupun daerah tidak punya kuasa yang kuat untuk mengawasi siaran televisi.

Meskipun KPI telah menyusun Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) dan Standar Program Siaran (SPS) yang memuat ketentuan terhadap penjagaan moralitas, masih banyak siaran televisi yang mengabaikan aspek moral. Keberadaan Badan Sensor Film (BSF) juga tidak memberikan jaminan terhadap penghormatan moralitas dalam siaran televisi di Indonesia.

Moralitas tampaknya menjadi tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap detik siaran televisi menghasilkan uang.***

Dr Junaidi Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak dan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau.(Riau Pos)

Iklan

3 thoughts on “LUNA MAYA JADI GURU? OLEH DR JUNAIDI

  1. benar pak, jadi yang saya inginkan bagaimana caranya agar siaran TV di Indonesia ini di tutup bagi siarannya tidak menampilkan moral yang baik utk bangsa kita……

  2. Betul itu,kaum adam umumnya kalau sudah lihat wajah luna maya di tv,bawah sadarnya langsung teringat memori vidio hot luna bersama ariel itu lho?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s