Home

Jika malam telah merata kegelapannya, orang-orang mulai merebahkan lambung di ranjangnya, beliau bangun, memperbagus wudhu lalu berdiri di mihrabnya, memulai shalatnya dengan penuh khusyu’ di hadapan Rabb-nya.
Terkadang beliau merasakan betapa manisnya Al-Qur’an menyentuh seluruh relung-relung di hatinya, menggugah akalnya yang jernih untuk merasakan rasa takutnya kepada Allah, seringkali pula beliau merasakan betapa Al-Qur’an mampu membersihkan karat hatinya.
Shilah bin Asyyam menunaikan ibadahnya itu secara tertib. Tak ada bedanya bagi beliau, baik ketika tinggal di kotanya atau saat bepergian, dalam waktu-waktu sibuk ataupun di saat senggang.
Ja’far bin Zaid menuturkan kisahnya: “Ketika kami keluar bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Kabul dan berharap semoga Allah SWT menganugerahkan kemenangan melalui tangan kami. Di antara pasukan tersebut terdapat pula Shilah.
Ketika malam berangsur gelap sedang kami berada pada suatu jalan, saat itulah aku melihat Shilah pergi ke tendanya seperti yang lain, lalu merebahkan diri seperti yang lain pula. Aku berkata dalam hati: “Mana bukti kemasyhuran shalat dan ibadah orang ini, yang dikatakan sampai kakinya bengkak-bengkak itu? Demi Allah aku akan mengawasinya terus malam ini untuk membuktikannya.”
Terlihat seluruh pasukan telah tertidur, Aku melihat Shilah bangkit lalu keluar dari perkemahan. Beliau menembus kegelapan yang pekat menuju hutan yang lebat pohonnya, rimbun daunnya, rumput-rumputnya tebal dan tajam pertanda sudah lama tidak dijarah manusia. Aku menguntitnya dari belakang.
Sampailah beliau di suatu tempat yang sunyi, beliau mencari arah kiblat, menghadap kesana, bertakbir, dan tenggelam dalam shalatnya. Aku memperhatikannya dari kejauhan, kulihat cahaya memancar dari wajahnya, tenang seluruh anggota badannya, khusyuk sepenuh jiwanya. Seakan tempat yang rawan menjadi taman yang nyaman, yang jauh terasa dekat dan kegelapan bagai cahaya yang terang benderang.
Beberapa saat beliau dalam keadaan seperti itu…tiba-tiba muncul seekor singa dari arah hutan sebelah timur. Begitu menyadari apa yang aku lihat, rasa gentar dan panik menimpa hatiku, lalu aku memanjat sebuah pohon yang tinggi agar terhindar dari kebuasannya.
Singa itu mendekat ke arah Shilah, sementara dia makin hanyut dalam shalatnya. Hingga tinggal beberapa langkah lagi jarak singa darinya…demi Allah, sama sekali dia tidak menoleh kepadanya, tak menghiraukan kehadirannya. Begitu beliau sujud, aku bergumam: “Sekarang dia pasti diterkam.”
Lalu beliau bangkit dari sujudnya dan duduk, sementara singa itu masih terpaku di hadapannya, seakan memperhatikan gerak-geriknya. Usai salam, Ibnu Asyyam menoleh ke arah singa tersebut dengan tenang. Dari kedua bibirnya bergumam kata-kata yang tak dapat kudengar. Tiba-tiba saja singa itu berbalik, melangkah pelan menuju ke arah di mana dia datang.
Fajar mulai menyingsing, beliau tunaikan sekaligus shalat fardhunya. Sesudah itu mengucap syukur kepada Allah SWT dengan puji-pujian yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Setelah itu beliau berdoa: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dari api neraka. Namun patutkah hamba yang penuh dosa seperti aku ini minta dimasukkan ke dalam jannah?” Kata-kata ini diulang-ulang hingga bercucuran air matanya. Aku yang melihatnya turut menangis karenanya.
Setelah itu beliau kembali ke tengah pasukan tanpa diketahui seorangpun. Tampak di mata mereka seakan-akan dia baru tidur pulas di atas kasur. Aku turut kembali di belakangnya, membawa rasa kantuk karena begadang malam…tubuh lemas…ketakutan terhadap singa…hanya Allah SWT  yang Maha Tahu.
Sebagai contohnya adalah tatkala beliau keluar di sebuah daratan di pinggir kota Bashrah untuk beribadah, lewatlah rombongan pemuda yang menuruti hawa nafsu. Mereka berfoya-foya, bersenda gurau dan menari-nari tidak karuan. Menghadapi yang demikian itu, beliau memberi salam dengan halus lalu berbicara kepada mereka dengan lunak dan penuh kasih: “Bagaimana pendapat kalian tentang suatu kaum yang sedang menempuh perjalanan untuk urusan yang amat penting, namun di siang hari mereka membelok dari jalan tersebut untuk berfoya-foya dan bermain-main, sedang-kan malam harinya mereka tidur lelap untuk istirahat, lantas kapankah perjalanan mereka sampai ke tempat tujuan?” Beliau selalu mengulangi peringatan tersebut setiap kali bertemu mereka.
Pada kesempatan lain, beliau bertemu dengan mereka dan menyampaikan kata-kata yang sama. Seorang dari para pemuda itu berdiri dan berkata: “Demi Allah, yang dia maksudkan tidak lain adalah kita. Kita berfoya-foya di siang hari dan tidur pulas di malam hari.” Lalu pemuda itu menarik diri dari teman-temannya dan mengikuti jejak Shilah, bahkan dengan setia selalu menyertainya sejak hari itu.
Pernah pula datang kepada beliau seorang pemuda dari Basrah. Dia berkata: “Wahai Abu Shahba, ajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Anda.”
Shilah tersenyum mendengar ucapan pemuda itu lalu berkata: “Engkau telah mengingatkan aku wahai putra saudaraku, akan suatu kenangan yang tak pernah aku lupakan. Saat aku masih muda seusia dirimu, aku telah mendatangi sisa-sisa sahabat nabi dan aku berkata: “Ajarkanlah kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Anda.”
Mereka menasihati diriku: “Jadikanlah Al-Qur’an sebagai perisai bagi jiwamu dan penghibur hatimu. Jadikanlah dia sebagai nasihatmu dan nasihatilah kaum muslimin dengannya pula. Perbanyaklah berdo’a kepada  semampumu.”UAllah
Pemuda itu berkata: “Do’akanlah saya, semoga Allah membalas Anda dengan yang lebih baik.” Shilah berdo’a untuk pemuda tersebut: “Semoga Allah SWT menaruh di hatimu semangat untuk mendapatkan kenikmatan yang kekal, dan menjadikan dirimu zuhud terhadap yang fana, memberikan karunia kepadamu berupa keyakinan yang menenangkan jiwa dan menolongmu untuk menjalankan agamamu.”
Shilah memiliki sepupu perempuan bernama Mu’azhah Al-Adawiyah. Karena sering bertemu dengan Aisyah ddan menimba ilmu darinya. Dia juga bertemu Hasan Al-Basri dan mendengar banyak hal darinya.
Mu’azhah adalah wanita yang bertakwa dan suci hatinya, tekun beribadah dan mengesampingkan urusan duniawi. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika malam tiba berkata: “Boleh jadi malam ini adalah malam terakhir bagiku” lalu beliau tidak tidur sampai fajar. Jika siang hari dia berkata: “Barangkali hari ini adalah hari terakhir bagiku. “Kemudian beliau memanfaatkan hari itu untuk beramal shalih, sedangkan waktu malam yang sunyi digunakannya untuk malakukan shalat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan sifat ketekunannya dalam beribadah, Shilah tidak berarti meninggalkan sunnah Nabi untuk menikah. Beliau menikah dengan Mu’azhah. Pada malam pernikahan, keponakannya membawa beliau ke pemandian panas, lalu memasukkan dia ke rumah yang bagus dan wangi.
Ja’far menuturkan kisahnya: “Kami berangkat dalam sebuah peperangan, sementara Shilah dan Hisyam berada dalam regu kami. Begitu berhadapan dengan pasukan musuh, Shilah dan temannya itu langsung menerjang dan masuk di tengah-tengah mereka. Membabatkan pedang ke kanan dan ke kiri dengan tangkas hingga musuh kocar-kacir.
Para pemimpin pasukan musuh berkata satu sama lain: “Dua muslim saja cukup memporakporandakan kita, bagaimana jadinya jika semua terjun dalam medan perang? Maka menyerahlah kepada mereka dan tunduklah kepada mereka.”
Tahun 76 Hijriyah, Shilah turut serta dalam pasukan muslimin yang bergerak menuju daerah seberang sungai (Turkistan) disertai oleh puteranya. Tatkala dua pasukan telah berhadapan dan perang telah berkobar, Shilah berkata kepada puteranya: “Wahai puteraku, majulah dahulu dan gempurlah musuh-musuh Allah SWT itu agar aku bisa mengorbankan dirimu kepada-Nya demi ridha-Nya dan tidak hilang segala titipan-Nya.”
Dengan segera, bergegaslah pemuda tersebut terjun ke medan perang bagaikan anak panah terlepas dari busurnya. Dia terus berperang hingga akhirnya tersungkur syahid. Kemudian ayahnya menyusul memasuki kancah peperangan dan berjuang hingga syahid di sisi puteranya.
Begitu berita gugurnya bapak dan anak itu sampai di Basrah, para wanita mendatangi Mu’azhah untuk berbelasungkawa. Namun Mu’azhah berkata: “Bila kalian datang kemari untuk mengucapkan selamat, maka aku sambut kedatangan kalian, namun jika kalian datang untuk yang lainnya (berbelasungkawa), maka sebaiknya kalian kembali, semoga Allah membalas kebaikan kalian.”
Semoga Allah SWT menggembirakan wajah-wajah yang mulia ini. Yang tak segan-segan mengorbankan dirinya demi Islam dan kaum muslimin. Sejarah telah mencatat, tidak ada lagi manusia yang lebih bertakwa dan lebih suci dari mereka setelahnya.

 — Dikutip dari buku “Mereka Adalah Para Tabi’in” | Pustaka At-Tibyan | http://www.At-Tibyan.com

Iklan

2 thoughts on “SANG AHLI IBADAH…‏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s